Kicauan terakhir majalah mingguan "Charlie Hebdo" sesaat sebelum diserang pria bersenjata, Rabu. (www.twitter.com/@charlie_hebdo_)
Jakarta (ANTARA News) - Majalah satir "Charlie Hebdo" memiliki lebih dari 109.000 pengikut di Twitter, dan tepat di kicauan nomor 5.849--sesaat sebelum diserang oleh pria bersenjata, Rabu--gambar karikatur yang dimunculkan adalah tentang pemimpin kelompok militan ISIS, Abu Bakr Al-Baghdadi.
Kicauan itu diberi kalimat pengantar "Ngomong-ngomong, salam hangat."
Kartun dengan sosok Al-Baghdadi sedang memberi pidato dituliskan dengan narasi kira-kira "Untuk kamu juga, Al-Baghdadi." Dan pemimpin ISIS itu dinarasikan berkata "Terutama untuk kesehatanmu."
Di jejaring sosial, majalah ini mendeskripsikan dirinya sebagai "koran yang tidak bertanggungjawab".
Di edisi terbarunya pekan ini "Charlie Hebdo" menampilkan novel provokatif karya Michel Houellebecq berjudul "Submission" yang membuat satire Perancis sedang dipimpin oleh seorang presiden yang Muslim.
The Guardian melaporkan bahwa editor "Charlie Hebdo", Stéphane Charbonnier, telah menerima ancaman pembunuhan dan hidup dalam perlindungan kepolisian sejak itu.
Ia selalu berkeras bahwa kartun Nabi Muhammad adalah kesenangan yang tidak berbahaya, meskipun ia sadar bahwa Islam melarang gambar Muhammad dipublikasikan karena diyakini aksi demikian masuk kategori asusila.
Charbonnier alias Charb telah menjadi editor sejak tahun 2009. Ia dikabarkan tewas dalam aksi penyerangan yang terjadi pada Rabu pagi.
Serangan Charlie, Liberal Makin Kuat Islam Makin Tersudut
Menurut Rizqi Awal, Redaktur Liputan6islam, serangan yang dilakukan terhadap Charlie Hebdo ini membuktikan bahwa Perancis tak mampu menjaga keamanan di dalam negerinya. Selain itu, Intelijen sepertinya "membiarkan" kasus ini terjadi demi memuluskan langkah mengubur kepercayaan eropa kepada umat islam.
Sayangnya dunia memberikan respon begitu cepat atas tragedi ini, yang sebenarnya kasus kriminalitas biasa yang tak bisa disangkut pautkan dengan keamanan nasional Perancis. Tapi dunia memberikan respon begitu lemahnya dan kecaman atas kelakuan Israel dan Assad yang justru telah banyak menewaskan manusia.
(zrp/antara)
Kicauan itu diberi kalimat pengantar "Ngomong-ngomong, salam hangat."
Kartun dengan sosok Al-Baghdadi sedang memberi pidato dituliskan dengan narasi kira-kira "Untuk kamu juga, Al-Baghdadi." Dan pemimpin ISIS itu dinarasikan berkata "Terutama untuk kesehatanmu."
Di jejaring sosial, majalah ini mendeskripsikan dirinya sebagai "koran yang tidak bertanggungjawab".
Di edisi terbarunya pekan ini "Charlie Hebdo" menampilkan novel provokatif karya Michel Houellebecq berjudul "Submission" yang membuat satire Perancis sedang dipimpin oleh seorang presiden yang Muslim.
The Guardian melaporkan bahwa editor "Charlie Hebdo", Stéphane Charbonnier, telah menerima ancaman pembunuhan dan hidup dalam perlindungan kepolisian sejak itu.
Ia selalu berkeras bahwa kartun Nabi Muhammad adalah kesenangan yang tidak berbahaya, meskipun ia sadar bahwa Islam melarang gambar Muhammad dipublikasikan karena diyakini aksi demikian masuk kategori asusila.
Charbonnier alias Charb telah menjadi editor sejak tahun 2009. Ia dikabarkan tewas dalam aksi penyerangan yang terjadi pada Rabu pagi.
Serangan Charlie, Liberal Makin Kuat Islam Makin Tersudut
Menurut Rizqi Awal, Redaktur Liputan6islam, serangan yang dilakukan terhadap Charlie Hebdo ini membuktikan bahwa Perancis tak mampu menjaga keamanan di dalam negerinya. Selain itu, Intelijen sepertinya "membiarkan" kasus ini terjadi demi memuluskan langkah mengubur kepercayaan eropa kepada umat islam.
Sayangnya dunia memberikan respon begitu cepat atas tragedi ini, yang sebenarnya kasus kriminalitas biasa yang tak bisa disangkut pautkan dengan keamanan nasional Perancis. Tapi dunia memberikan respon begitu lemahnya dan kecaman atas kelakuan Israel dan Assad yang justru telah banyak menewaskan manusia.
(zrp/antara)